Secret Code of Venice
By: Anita Kazahana
Rate: T
Genre: Mistery, Friendship
Warning: Eto… Kodenya bikin bingung gak ya?
---***---
“Apa kau yakin ada petunjuk di tempat seperti ini?” tanya seorang pemuda keturunan Inggris sembari melihat-lihat area sungai besar di dekatnya.
“Mana kutahu, petunjuk sebelumnya memang mengarah ke tempat ini ‘kan?” ujar pemuda lain di depannya. Ia tengah membaca selembar kertas bertuliskan angka-angka dan kalimat yang cukup membingungkan.
“Bagaimana kalau kita salah tempat? Kita tidak punya banyak waktu lagi!” timpal seorang gadis berkuncir dua yang berjalan di belakang kedua pemuda tersebut. Sedari tadi ia memang sudah tidak yakin ketika teman-temannya itu mengajaknya “menelusuri” tempat-tempat di kota Venesia ini. Padahal, ia berharap liburannya kali ini hanya berisi kesenangan setelah melepaskan semua hal yang berhubungan dengan kegiatan akademisnya. Hal itu sudah cukup membuatnya gila.
“Tidak, tidak. Kau tahu ‘kan, kalau dia ini internet freak? Dan kalau bukan karena aku, dia tidak akan ingat artikel tentang kode itu,” ucap seorang gadis lain. Ia memasukkan kedua tangannya di saku celananya. Dari gayanya, bisa dilihat kalau dia tipe gadis tomboy.
“Sudah, jangan banyak bicara. Lebih cepat, lebih baik!” ucap pemuda yang tengah membaca kertas tadi, ia membetulkan letak kacamatanya yang bergeser dari tempatnya.
“Kalau begitu, bukankah lebih cepat kalau kita berpencar saja?” usul si gadis tomboy.
“Ya, kau benar juga.” Pemuda keturunan Inggris itu menyahut. Jujur, ia memang sudah terlalu lelah berkeliling kota Venesia seharian.
“Baiklah, sekarang kita berpencar, kita bertemu lagi disini jam 4 sore. Mengerti?” ujar pemuda berkacamata itu. Semua mengangguk.
“Sekarang kita berpencar.”
Beberapa jam yang lalu…
Kota Venesia. Bisa saja kita sebut kota ini sebagai kota kanal. Berdiri sejak abad ke-9, kota ini terkenal dengan tranportasi airnya yang berupa Gondola, perahu kayuh panjang yang hanya bisa dinaiki dua sampai empat orang saja. Dan disini, demi melepas penat juga sebagai perpisahan, keempat remaja ini berlibur atas usulan salah satu dari mereka.
“Wow! Kau tidak bilang kalau daerah disini benar-benar indah, Jean!” pekik salah seorang gadis berambut pendek yang tampak seperti seorang laki-laki. Ia benar-benar terpukau akan keindahan sang “Kota Cinta”.
“Aku ‘kan sudah bilang, kalau liburan kali ini aku akan ke Venesia. Jadi, sebagai salam perpisahan setelah tiga tahun kita berempat bersama, aku mengajak kalian kesini,” sahut gadis yang dipanggil “Jean” itu sembari melipat kedua tangannya.
“Oh ya, hari ini kita mau kemana?” tanya sosok gadis bergaya laki-laki di depannya.
“Entahlah, aku juga belum tahu. Bagaimana kalau kita bangunkan dulu dua laki-laki pemalas di kamar sebelah?” ujar Jean, ia menunggu persetujuan dari rekan sekamarnya itu.
“Boleh juga. Ayo!”
BRAKK!
“Siapa yang bilang kalau kami belum bangun, hah?!” ucap seorang laki-laki berambut pirang, orang yang “membuka” pintu kamar Jean.
“Hei! Pintu itu mahal! Kau tahu tidak sih, Art?!” omel Jean setelah melihat insiden “terbukanya” pintu kamarnya tadi.
“Oops! Maaf,” ucap pemuda bernama Arthur itu cuek tanpa menyadari tatapan tajam Jean. Ia sering dipanggil “Art” agar teman-temannya lebih mudah memanggilnya.
“Ayolah… ini masih pagi, jangan ada ‘pertengkaran rumah tangga’ disini.”
“Kau diam saja, Alice!!” teriak Jane dan Arthur bersamaan, mereka tak sadar kalau Alice sedang tertawa tertahan melihat reaksi mereka.
“Hehe… kalian menunjukkan sinkronisasi yang bagus!” ucap Alice, si gadis bergaya laki-laki itu sambil mengacungkan kedua jempolnya.
“Che!” Arthur memalingkan wajahnya. Ia benci jika ada seseorang yang menggodanya. Apalagi dia adalah orang yang dijuluki “Ratu Jahil” di sekolahnya.
“Ada apa sih? Kalian ini tukang ribut ya?” sesosok laki-laki lain ikut memasuki kamar Jean. Seorang laki-laki berkacamata yang tengah membawa sebuah buku Matematika.
“Hai, Alfred! Kau… masih membawa buku ‘mematikan’ itu?” tanya Alice sembari berdiri dari kursi yang tadi didudukinya.
“Matematika, Alice! Aku heran, apa yang salah dengan pelajaran ini?” Alfred menghela nafas. Ia tidak habis pikir, kenapa pelajaran yang disukainya itu dibenci-hampir-setiap orang.
“Salah! Karena pelajaran itu hanya membuatku pusing tujuh keliling saja!” ucap Alice, “Aku pergi keluar dulu,” lanjutnya.
“Ya,” ucap Alfred sambil memandang kepergian Alice, “Dan… kenapa kalian diam seperti itu?” ucapnya kemudian setelah melihat kejanggalan dari kedua temannya.
“Bukan urusanmu,” jawab keduanya bersamaan. Lagi.
“Aku mandi dulu, Alfred,” ujar Arthur. Ia berjalan melewati Alfred dan kembali ke kamar mereka berdua.
“Alfred, kalau kau tidak ada kepentingan yang lain, kau boleh pergi,” pinta Alice. Ucapannya sedikit membuat Alfred tersinggung. Mau tak mau Alfred harus pergi, toh ia bukan penghuni kamar itu. Mana mungkin seorang laki-laki sekamar dengan seorang perempuan? Kalau iya, pasti karena salah kamar, tapi itu tak mungkin terjadi. Ia masih ingat norma-norma yang dikatakan gurunya. Alfred masih ingat.
“Oke, aku tunggu kau di bawah. Aku akan memasak sarapan pagi,” ujar Alfred. Dilangkahkan kakinya keluar dari kamar Jean. Tak lupa ditutupnya pintu bekas ulah temannya tadi, Arthur.
“Huft… merepotkan,” ucap Jean. Ia berjalan ke meja tata riasnya kemudian duduk di kursi meja tata rias itu. Mengambil dua buah ikat rambut untuk mengikat rambut coklat tua panjangnya.
---***---
Pemuda berkacamata itu tengah duduk di sebuah kursi meja makan minimalis dimana telah tersedia beberapa macam makanan, sembari membaca buku tebal yang dibawanya dari tadi. Ada sandwich isi tuna, sup tomat, dan segelas susu kedelai. Siapa yang tahu kalau pemuda itu juga bisa memasak?
“Alfred… kau yang memasak ini semua?” tanya seorang gadis berkuncir yang baru saja turun dari tangga yang menghubungkan lantai dua dan lantai satu tempatnya berada saat ini. Ia terpaku pada sajian sarapan pagi di hadapannya. Ia tidak menyangka teman yang dikiranya hanya bisa mengerjakan soal-soal memusingkan itu, bisa juga memasak makanan seperti ini.
“Kenapa? Kaget? Memangnya aku ini orang yang hanya bisa berkutat pada soal-soal Matematika yang sulit? Maaf saja, itu salah besar,” ucap Alfred yang masih membaca bukunya tanpa berpaling ke arah Jean, gadis berkuncir itu.
“Iya, iya, aku tahu. Aku hanya kaget saja,” ujar Jean sambil menarik sebuah kursi kosong di meja makan itu.
“Itu sama saja, Jean.”
“Terserah kau sajalah.”
KRIEEET…
“Jean! Aku pulang!” Seorang gadis berteriak, ia membuka pintu masuk vila itu. Di tangannya ada sebuah kotak kecil, entah berisi apa.
“Bagaimana?” tanya Jean pada gadis itu. Orang yang ditanyai hanya meringis.
“Hehe… tidak salah kalau aku setuju ikut denganmu, Jean. Pemandangannya menakjubkan!”
“Bagus kalau begitu,” ujar Jean, “Oh ya, yang ada di tanganmu itu… kotak apa?” tanyanya lagi. Pandangannya tidak terlepas dari obyek yang jadi pembicaraannya.
“Ooh.. ini? Tadi aku menemukannya di depan beranda, aku tidak tahu apa isinya. Mungkin paket dari orang tuamu?” Gadis itu menuju ke meja makan tempat sang pemilik vila duduk. Ia menyerahkan kotak misterius itu kepada Jean.
“Aneh, ayah dan ibu tidak pernah menghubungiku tentang pengiriman paket ini. Lagipula, aku sudah membawa semua perlengkapan yang kuperlukan selama satu minggu ke depan,” ucap Jean heran. Ia menerima kotak itu.
“Yah… bagaimana kalau kau buka dulu?”
“Ide bagus, Alice.” Jean meneguk ludahnya. Jujur saja, ia agak takut dengan isi kotak itu. Banyak kemungkinan yang bisa muncul.
“Kalau kau tidak yakin, jangan buka.”
Tiba-tiba interupsi dari seorang pemuda datang. Dengan membawa selembar handuk yang masih bertengger di lehernya, ia menuruni tangga di dekat dapur itu.
“Tapi aku penasaran, Art….”
“Yah… kita tunggu saja keputusan dari Jean, Alice,” ucap Arthur, ia kembali menggesekkan handuknya ke rambut basahnya. Ia mengambil satu-satunya kursi yang masih kosong di dekat meja itu.
“Lalu? Kau mau membukanya?” ujar Alfred. Perhatiannya teralihkan, sepertinya ia mulai tertarik akan arah pembicaraan mereka bertiga. Sebuah kotak misterius. Kesimpulan yang Alfred dapat ialah, pasti ada suatu misteri pada kotak itu.
“Tidak ada salahnya ‘kan? Bisa saja isinya benda yang penting,” timpal Alice yang sedari tadi penasaran akan isi kotak itu.
“Baiklah…”
BLAK…
“Apa isinya, Jean?” tanya Arthur, sepertinya ia sudah melupakan masalahnya dengan Jean tadi pagi. Ia tidak ingin membebani pikirannya dengan masalah yang tidak penting.
“ ‘– 1 2 Z Z 2 adalah tempat dimana kau bisa menemukan sesuatu yang akan menuntunmu menuju kenyataan’, itu yang ditulis di kertas ini,” ucap Jean sedikit heran. Ia tidak mengerti maksud dari surat “aneh” itu.
“Hmm… menarik,” Arthur menyeringai senang. Akhirnya ia bisa mendapatkan kesenangan di liburan kali ini.
“Kau tahu artinya, Art?” tanya Alfred. Ia belum pernah menghadapi kode-kode semacam ini.
“Apa ada kata-kata lain yang tertulis disana, Jean?” Arthur tak menghiraukan pertanyaan Alfred, ia lebih tertarik pada “kode rahasia” yang tertulis di kertas itu.
“Mari kita lihat… Ah! Ada! Di belakangnya ada tulisan ‘Kau tahu? Ini sangat terkenal’,” jawab Jean yang masih membolak-balikkan kertas itu, berharap ada petunjuk lain.
“Begitu… jadi kita harus ke jantung kota Venesia ya?” ucap Arthur dengan senyum misteriusnya. Semua orang di ruangan itu hanya bisa menatap Arthur dengan pandangan bingung sekaligus penasaran.
“Jean, kau punya mobil di vila ini ‘kan?” tanya Arthur sambil menatap Jean serius.
“Ya, dan selalu ada,” ucap Jean sembari berdiri dan mengambil sesuatu di laci rak buku yang ada di dekatnya, “Porsche 356, mobil kesayangan ayahku.”
---***---
Porsche 356 itu melaju dengan cukup kencang. Menyusuri jalanan kota Venesia yang tak terlalu ramai. Warna peraknya seakan memantulkan pancaran sinar matahari yang bersinar terang, membuat beberapa pasang mata harus memincingkan mata saat mobil kuno itu lewat.
“Hei, Art. Apa kau sudah punya surat ijin?” tanya Alfred, ia tahu kalau remaja berumur 15 tahunan seperti mereka belum pantas mengendarai sebuah mobil. Selain karena masih terlalu muda, untuk mendapatkan sebuah surat ijin untuk mengemudi paling tidak orang itu harus berumur 17 tahun. Dan Arthur belumlah mencapai batas umur itu.
“Tenang saja, aku sudah biasa mengendarai mobil. Kalian tidak perlu takut, aku tidak akan membuat kalian celaka,” ujar Arthur santai disusul siulan alunan nada lagu yang tidak diketahui ketiga temannya.
“Ah ya, sebelum kita sampai ke tempat tujuan, bagaimana kalau kau menjelaskan arti kode itu pada kami?” Kali ini Alice ikut angkat bicara. Di antara yang lain, dia-lah yang paling penasaran dengan maksud kode itu.
“Oke, ada dua petunjuk dari kode itu dan hanya ada satu jawaban,” ujar Arthur, ia mengangkat jari telunjuknya.
“Baik, apa itu?”
Alfred yang duduk di sebelah Arthur memasang wajah serius, ia ingin tahu bagaimana pemecahan dari temannya itu. Sedangkan Jean hanya tersenyum sinis melihat ekspresi kedua temannya saat mendengar jawaban kode itu. Seperti Arthur, ia juga sudah tahu. Arti dari kode itu.
“Yang pertama, sandi kode etik. Orang yang mengirim kode itu pada kita memakai sandi kode etik untuk menunjukkan lokasinya.” Arthur menunggu reaksi dari Alice.
“Lalu?”
“Yang kedua, adalah petunjuk yang tertulis di belakang kertas itu,” jelas Arthur. Terlihat olehnya Alfred tengah tersenyum, sepertinya jagoan Matematika itu sudah tahu jawabannya.
“Kau sudah tahu, eh? Alfred?” tanya Arthur tanpa menoleh ke arah Alfred. Baginya, konsentrasi mengendarai mobil adalah nomor satu.
“Benarkah?!” ucap Alice antusias.
“Ya, untuk petunjuk pertama, tanda hubung ‘–‘ adalah kode etik untuk huruf ‘P’, angka ‘1’ adalah ‘I’, angka ‘2’ untuk ‘A’, dan ‘Z’ kapital adalah huruf ‘Z’ itu sendiri. Kalau kau mengubah kode itu dan menggabungkannya, apa yang kau dapat, Alice?” jelas Alfred. Ia menoleh ke belakang dimana Alice masih sibuk mengubah kode yang mereka dapat.
“P-I-A-Z-Z-A. Piazza! The Piazza! Piazza san Marco!” teriak Alice, dia terlihat sangat yakin akan jawabannya.
“Ping pong! Benar! Petunjuk itu memang menunjukkan lokasinya,” ucap Arthur membenarkan jawaban Alice.
“Lalu, lalu, petunjuk yang kedua?” Alice sangat bersemangat ketika mendengar bahwa tebakannya benar. Ia ingin segera menyelesaikan kode itu.
“Coba kau baca kalimat setelah kode etik itu,” ucap Jean sambil menyodorkan kertas putih bertuliskan kode itu.
“ ‘Adalah tempat dimana kau bisa menemukan sesuatu yang akan menuntunmu menuju kenyataan’? Apa maksudnya itu?” tanya Alice penuh kebingungan. Jean mengikik pelan, mengundang Arthur untuk menantang Jean menjelaskan kode itu.
“Kalau begitu kau saja yang menjelaskan, Jean. Aku juga harus berkonsentrasi dengan jalan di kota ini,” ucap Arthur.
“Baiklah. Nah, apa kau tahu arti ‘sesuatu’ yang dimaksud?” Jean menunjuk kata-kata di kertas yang dipegang Alice.
“Sesuatu… mungkinkah benda?”
“Benar, dan tulisan ‘Kau tahu? Ini sangat terkenal’, itu membuktikan bahwa di Piazza san Marco itu mungkin terdapat sebuah tempat terkenal yang digunakannya untuk menyembunyikan ‘benda’ yang dimaksud,” ujar Jean.
“Kalau begitu, ayo kita kesana!” ajak Alice.
Petualangan baru saja dimulai kawan. Bersiaplah memecahkan rahasia dari kota kanal ini.
---***---
CKIIIT…!
Mobil kuno itu berhenti. Keempat orang yang menaikinya segera bergegas keluar. Mereka tak ingin membuang-buang waktu lagi karena hari sudah siang. Matahari bersinar terik sekali sehingga mereka harus memakai kacamata hitam sebagai pelindung mata. Saat ini, mereka belumlah sampai di jantung kota Venesia, karena menurut peraturan kota, mobil dilarang masuk ke kawasan kota. Terpaksa mereka harus berjalan setelah memarkirkan mobil Porsche itu di pinggir kota. Setelah beberapa menit mereka berjalan, akhirnya sampai juga mereka di Piazza san Marco.
“Ayo,” Arthur melangkahkan kakinya menuju kawasan Piazza san Marco disusul ketiga temannya. Mereka akan langsung menuju ke tempat tujuan yang sesungguhnya.
Piazza san Marco atau The Piazza, adalah lapangan umum utama di kota Venesia. Di lapangan ini, terdapat pusat sosial, agama, bahkan politik. Tempat ini merupakan salah satu tempat dimana suara manusia menang atas suara dari hasil kebisingan kendaraan bermotor.
Selanjutnya disinilah mereka, menuntun kaki-kaki mereka menuju Bassilica san Marco. Sebuah tempat terkenal dengan mosaik-mosaik berlapis emasnya yang indah. Berkilauan.
Perhatian mereka terpaku pada keindahan Bassilica san Marco. Belum pernah mereka melihat, bahkan mengunjungi tempat seindah ini. Benar-benar karya arsitektur yang menakjubkan. Kelas atas.
“Hooo… jadi disini tempatnya?” Alice terpaku akan pemandangan serba “wah” di hadapannya. Ia terkagum-kagum melihatnya.
“Oke, ayo kita masuk.”
Ketiga temannya segera memasuki area tempat itu, namun Alice belum juga mengikuti mereka. Ia masih berada di luar sembari memandangi keindahan hasil cipta karya manusia pada beberapa abad yang lalu itu.
“Hei, apa kau tahu apa isi kotak itu?”
“Entah, aku tidak tahu. Siapa yang meninggalkannya disini ya?”
Terdengar oleh Alice sayup-sayup percakapan dua orang. Arah pandangnya teralihkan ke arah sayup-sayup suara itu berasal. Ia bisa melihat dua orang laki-laki yang sedang mengamati sebuah kotak kecil yang sangat mirip dengan kotak yang ada di beranda tadi pagi.
“Hah? Itu kan….” Alice memastikan kalau-kalau ia salah lihat, tapi tidak. Ia tidak salah lihat, kotak itu memang benar-benar mirip. Dengan cepat ia berlari ke arah kedua orang itu. Ia hanya ingin memastikan, tidak ada maksud lain.
“Err… permisi, boleh saya lihat kotak itu?” tanya Alice setelah tiba di lokasi kedua pria itu.
“Apa kau pemilik kotak ini?” tanya salah satu dari mereka.
“I-iya…” jawab Alice agak tak yakin.
“Bagus kalau begitu, kami bisa pergi sekarang. Ayo!” Kali ini giliran yang lain yang berbicara. Mereka berdua berlalu, pergi. Meninggalkan Alice dengan sebuah kotak misterius. Lagi.
“Huft! Baik, mari kita lihat apa isinya,” ucap Alice sambil mengangkat kotak itu dan membukanya. Ada sesuatu di dalamnya. Secarik kertas putih dengan angka dan kalimat yang tertulis rapi di atasnya.
Cepat-cepat ia menyusul ketiga temannya. Mencari keberadaan mereka di dalam ruangan luas itu, namun sebelum ia sempat memasukinya, ketiga sosok yang dicarinya keluar dari bangunan itu. Spontan ia berhenti.
“Alice! Kau kemana saja?! Kami mencarimu tahu!” Jean berkacak pinggang, ia mengomeli Alice yang berdiri beberapa meter di depannya.
“Jean! Art! Alfred! Aku menemukan sesuatu!” teriak Alice sembari memperlihatkan selembar kertas yang didapatnya. Melihat kertas itu, ketiga orang itu terbelalak. Mereka segera menghampiri Alice.
“Berikan padaku,” ucap Arthur. Ia meneliti isi dari kertas itu. Kode rahasia seperti sebelumnya, tapi dilihat dari raut wajahnya, ia tak mengerti arti kode kali ini.
“ ‘Kenyataan sebentar lagi akan terungkap. Kalau kau berani menaiki ular, pergilah ke angka 77744425558666. Disana kau akan menemukan jalan ke sebuah drama yang hebat’, apa artinya?” tanya Arthur. Jean merebut kertas itu, membacanya dalam hati dan membolak-balik kertas itu, tapi tak ada kalimat maupun angka lain.
“Aku juga tidak mengerti artinya,” ucap Jean sambil mengedikkan bahunya. Ia menyerahkan kertas itu pada Alfred. Alfred juga menggeleng tidak tahu. Ia sungguh tidak tahu.
“Eh, tunggu! Sepertinya aku tahu maksud dari angka itu,” ucap Alice tiba-tiba. Ia mengambil kertas di tangan Alfred. Mereka bertiga terheran-heran akan tingkah laku Alice.
“Coba kalian perhatikan, angka-angka ini sepertinya berasal dari keypad handphone,” jelas Alice, “Lalu, kalau kalian ketik angka-angka ini di handphone….”
“R-I-A-L-T-O, Rialto Bridge. Benar ‘kan?” Alfred memotong perkataan Alice. Arthur dan Jean segera mengalihkan perhatian mereka ke Alfred.
“Kalau kalian mengikuti pengetikan angka itu, kalian akan menemukan huruf R, I, A, L, T, dan O. Kode ini disebut All Rush Code, kode yang dibuat berdasarkan cara pengetikan huruf di handphone, setidaknya itu yang aku baca dari internet,” jelas Alfred, semuanya mengangguk. “Kalian bisa mencobanya nanti, yang penting kita harus menyelesaikan ‘permainan’ tidak berguna ini.”
“Jadi, ‘ular’ itu mungkin adalah gondola karena gondola panjang seperti ular,” sahut Arthur dengan memasang pose berpikir.
“Dan ‘drama yang hebat’ itu adalah tempat selanjutnya setelah Rialto Bridge. Tapi aku tidak habis pikir, kenapa petunjuknya tidak ada di Bassilica san Marco?” timpal Jean kemudian. Ia melipat kedua tangannya sembari berpikir.
“Itu tidak penting, sekarang kita harus naik gondola menuju Rialto Bridge. Jean, tidak apa-apa ‘kan kalau mobilmu kita tinggal?” tanya Alfred, ia menatap Jean. Sebagai reaksi, Jean mengangguk.
“Tidak apa-apa, toh aku sudah membayar ongkos untuk satu malam,” jawab Jean enteng. Mereka bertiga sudah maklum, kalau Jean memang anak seorang konglomerat besar.
“Tunggu sebentar, untuk apa kita naik gondola kalau jembatan Rialto dekat dari sini?” tanya Arthur. Ia baru ingat tentang peta yang dibacanya kemarin.
“Kalau kita tidak naik gondola…”
“Petunjuk selanjutnya ada di gondola itu. Kemungkinannya hanya itu,” ujar Alfred. Semuanya mengangguk pasti.
“Kalau begitu, ayo kita pergi.”
---***---
“Bagaimana? Kalian sudah menemukannya?”
“Belum.”
“Sebenarnya ada dimana kotak itu?”
Setelah kurang lebih setengah jam mereka mencari-cari keberadaan sebuah kotak, akhirnya mereka menyerah juga. Sekarang tinggal menunggu hasil dari anggota mereka yang terakhir.
“Heeeeiiii!!!!”
Akhirnya dia datang juga. Mereka tidak melihat kotak atau apapun yang mencurigakan dari gadis itu. Menghela nafas adalah opsi mereka saat ini.
“Kenapa kalian murung?” tanya gadis itu setelah ia sampai di hadapan ketiga remaja itu.
“Kau pasti tidak menemukannya juga ‘kan, Alice?” tanya seorang gadis berambut coklat tua berkuncir di depannya.
“Hn? Ada, tapi aku tidak menemukannya. Aku diberi seseorang, ini suratnya,” Gadis yang dipanggil Alice itu menyodorkan sebuah amplop putih yang masih tersegel. Itu berarti dia belum membukanya sama sekali.
“Surat? Kenapa modus-nya kali ini berbeda?” tanya salah satu pemuda di antara mereka. Rambut pirang pendeknya dibelai angin semilir dari arah sungai besar itu. Grand Canal.
Sungai besar di kota Venesia dengan aliran air yang tenang. Membawa gondola yang didorong oleh seorang Gondolier menuju tempat-tempat yang dituju oleh sang penyewa gondola. Mengikuti arus sungai yang mengalir menuju ke batas luar kota Venesia. Ke hilir dari Grand Canal.
“Aku tidak tahu, Art,” jawab Alice pada pemuda berambut pirang itu.
“Oh ya, aku baru sadar. Kenapa yang menemukan kode-kode ini selalu saja Alice?” Pemuda lain ikut bicara, kacamatanya yang sedikit turun dari posisi awalnya dinaikkan olehnya.
“Ya, aku juga baru tahu setelah kau mengatakannya, Alfred,” gadis berkuncir itu ikut menyetujui.
“Tunggu, kalian tidak mencurigaiku ‘kan?” Alice memandang horor ke arah mereka bertiga. Sebagai balasannya, mereka menggeleng. Mana mungkin mereka akan mencurigai teman mereka yang sedari tadi tak mengerti arti kode-kode itu, kalau dia juga terlibat? Kecuali untuk kode jembatan itu, tapi mungkin itu hanya kebetulan.
“Ya sudah, sekarang kita buka surat ini. Aku sudah lelah berkeliling kota seharian,” ujar Jean, dibukanya segel surat itu. Secarik kertas, sudah ia duga.
“Apa bunyi tulisan di kertas itu?” tanya Arthur. Ia menunggu jawaban Jean.
“Aneh, tidak ada tulisan apa-apa disini,” Jean melihat sisi depan kertas itu, kemudian sisi belakangnya, namun nihil. Ia tidak menemukan segores tinta pun disana.
“Tidak ada? Mana mungkin,” ucap Arthur. Ia merebut kertas itu dari tangan Jean dan menelusurinya. Alfred yang ada di dekat Arthur juga ikut melihat kertas itu. Sebuah pemikiran muncul di otaknya.
“Arthur, aku pinjam dulu,” Alfred mengambil kertas yang diberikan Arthur. Ia mendekatkan kertas itu ke hidungnya, mengendusnya. Mereka semua heran dengan apa yang dilakukan Alfred.
“Sudah kuduga, ada aroma lemon di kertas ini. Satu-satunya cara agar kita bisa mengerti pesan di kertas ini adalah memanaskannya di atas api,” Alfred menjauhkan kertas itu dari indera penciumannya. Ia menatap Arthur.
“Iya, aku tahu. Aku membawa pemantik kok,” ucap Arthur seakan ia mengerti maksud dari tatapan Alfred, ia mengeluarkan sebuah pemantik dari dalam saku celananya, “Ini.”
“Terima kasih. Baik, ayo kita lihat ‘pesan rahasia’ di kertas ini,” ucap Alfred.
Ia menyalakan pemantik itu, diletakkannya kertas putih itu di atas api yang menyala. Beberapa untaian kata telah muncul di atas kertas yang sebelumnya putih.
“Kau bisa membacanya, Jean?” tanya Alfred sembari memberikan kertas yang sudah berwarna coklat itu pada Jean. Jean menerimanya dengan senang hati.
“Oke, tulisannya, ‘Kembalilah ke tempat kalian menginap, karena drama yang hebat itu akan segera berakhir’.”
Mereka menatap heran satu sama lain. Yang ada di pikiran mereka hanya satu hal. Kenapa setelah bersusah payah berkeliling kota, mereka harus pulang ke vila Jean?
“Kau pasti bercanda, Jean,” ucap Arthur dengan nada sarkastik.
“Tidak, aku tidak bercanda. Kau baca saja sendiri!” Jean menyerahkan kertas coklat itu pada Arthur, yang menerima hanya menatap isi kertas itu dengan pandangan tak percaya.
“Hei, hei, ini bohong ‘kan? Kenapa kita harus pulang ke vila lagi? Setelah berjalan sejauh ini?” Arthur tertawa hampa. Ia sudah cukup lelah dengan lelucon-sok-misterius ini.
“Sudahlah, yang penting sekarang kita harus pulang!” ajak Alice. Ketiga temannya mengangguk tanda persetujuan.
“Sekarang, kita ambil mobilmu, Jean,” ujar Arthur. Jean mengangguk.
“Ya, ayo.”
---***---
CKIIITT…
Mobil Porsche kuno itu telah sampai di tujuan terakhirnya. Vila sang pemilik. Keempat orang yang menaikinya segera keluar dari mobil itu. Mereka berjalan ke arah rumah minimalis tempat mereka bermalam selama beberapa hari mendatang. Air muka mereka benar-benar terlihat lelah.
CKREK!
Pintu vila terbuka, memperlihatkan suasana kelam. Jean, sang pemilik vila segera mencari-cari tombol pemicu lampu di tembok dekat pintu itu. Sedangkan, ketiga orang yang mengikutinya hanya berdiri menunggu lampu dinyalakan.
CTIK!
Lampu telah dinyalakan, cukup terang untuk membuat mereka berempat menaungi mata mereka dengan tangan mereka.
“Selamat datang, kalian semua.”
Sebuah suara berasal dari hadapan mereka. Setelah agak terbiasa dengan cahaya lampu, mereka berempat memfokuskan pandangan mereka ke sumber suara.
“A-yah?” Jean tidak percaya akan apa yang dilihatnya. Di hadapannya, telah berdiri delapan orang yang ia ketahui adalah orang tuanya, Arthur, Alfred, dan Alice.
“Kalian lelah ‘kan? Maaf karena kami sudah membuat kalian berkeliling kota ini. Tapi kalian senang ‘kan?” ucap seorang wanita paruh baya yang berwajah mirip Arthur. Jelas-jelas kalau wanita ini adalah ibunda Arthur.
“Ibu, itu tidak lucu. Kukira itu surat ancaman dari seseorang atau kode menuju lokasi harta karun,” Arthur menghela nafas melihat sosok ibunya yang tengah tersenyum ke arah mereka berempat.
“Tapi, untuk ungkapan ‘harta karun’ itu memang benar,” ujar seorang pria berkacamata.
“Lalu, apa ‘harta karun’ yang ayah maksud?” Alfred bertanya kepada pria berkacamata itu. Inilah yang ia benci, ayahnya selalu membuat ungkapan yang tidak ia ketahui.
Delapan orang dewasa itu memandang satu sama lain. Mereka mengangguk. Sudah saatnya mereka mengakhiri ‘drama hebat’ ini.
“Kami semua akan memasukkan kalian semua ke salah satu sekolah menegah atas disini. Jadi, kalian akan belajar bersama disini. Lagipula, kalian suka berada disini ‘kan?” Seorang lagi wanita paruh baya ikut berujar.
“Benarkah, Bu?!” Alice menatap wanita itu, ia tak percaya dengan apa yang baru didengarnya.
“Ya, tahun ajaran baru ini kalian bisa sepuasnya berada di Venesia!”
Keempat remaja itu memandang satu sama lain. Mereka menyunggingkan senyum kemenangan. Pada akhirnya mereka mengerti maksud dari teka-teki itu. Mereka tidak menganggap hal itu sebuah kebetulan. Bukan, itu bukan kebetulan. Itu rencana yang dibuat orang tua mereka untuk menguji kekompakan mereka, dan sebagai hadiahnya mereka akan bersekolah di kota indah ini! Venesia, kota kanal dengan sejuta keindahan yang melingkupinya.
“HOORRAAAYYYY!!!!!”
---***---
~~FIN~~
---***---
Author’s Note:
Hahaha~~
Apa ini?! Cerita TER-rumit yang pernah saia buat!!! *stress sendiri* Maklumlah, dibuat lomba~ *Author sok -rajamed-*
Oya oya~ apakah readers masih bingung dengan kodenya? Saia gak~ *Author ketauan bo’ongnya -keplaked-*
Hey… asal para readers tau ya, 2 HARI saia buat ini! Mulai dari nyari kode, tempat-tempat di Venesia, sampe nentuin endingnya yang akhirnya GaJe semua… *pundung + ngorek-ngorek tanah*
Yasudlah~ yang penting selesai~! Ya kan? Ya kan? Ya ka- *Author dibekep*
Author: Hmp! Hmmmmmpphhhh!!!! (translate: Ai! Lepasin guaaaaaa!!!!!)
Aiko: Ogah. Ubah nama gua dulu, baru gua lepasin. Gua gak mau jadi cowok dengan nama cewek tau!
Author: Hmph~ hmph~ hmppphhhh~ (translate: terima aja kali~ situ kan emang cantik~)
Aiko: Ogah! Jadiin Akira kek, Ryo kek, Shigeru kek, kayak tokoh-tokoh yang lu buat! *iri nih ceritanya?*
Author: Hmph~~ hmph hmphh~ (translate: oh~~ tidak bisa~)
Aiko: Che! Gua buang lu ke laut tau rasa lu! *bawa Author ke laut*
Author: HHHHMMMMMPPPPHHHH!!!!! (translate: TEEEEDDAAAAKKKSSS!!!)
Dan cerita ini benar-benar berakhir, dengan dibuangnya(?) Author ke laut.
SEKIAN. *Titik! Bukan koma! Serius!*
Sign, Anita Kazahana
"Mau dapat uang cuma dengan klik, GRATIS sob, gabung disini !!!! :D"
BalasHapus